Rabu, Januari 21, 2009

Keinginan Risa

KEINGINAN RISA

Risa memandang rumahnya dari luar pagar seolah enggan melangkahkan kaki untuk memasukinya. Dulu saat pulang sekolah adalah saat-saat paling menyenangkan baginya. Saat ia pulang biasanya mamanya sudah menunggunya di teras rumah. Kemudian mama akan menyambutnya, menanyakan bagaimana kabarnya di sekolah lalu kemudian menyuruhnya masuk untuk berganti pakaian sebelum kemudian ia kembali dipanggil untuk makan siang. Tapi itu dulu,

berbeda sekali dengan sekarang. Risa kembali memandangi rumah tempat tinggalnya kemudian mulai melangkahkan kaki memasuki halaman rumahnya. Sepi, berbeda sekali dengan suasana yang ia rindukan.

“Mama belum pulang, Ren?” tanyanya pada adiknya yang sedang makan di ruang tengah. Reni menghentikan makannya sebentar kemudian mendengus kesal sebelum menjawab pertanyaan kakaknya.

“Biasalah…” ujarnya sebal. Risa maklum aja mendengar jawaban dari adiknya itu. mungkin Reni sama sebalnya denganku pada kesibukan-kesibukan mama, ujarnya dalam hati. Ia melongok piring Reni ingin tahu apa yang dimasak mamanya hari ini untuk menu makan siang mereka.

“Nggak ada apa-apa, cuma sayur asem ‘ma tahu tempe. Kaya’nya mama nggak sempat masak tadi pagi. Ini aku beli dijalanan waktu pulang sekolah tadi.” Ucap Reni seolah tahu apa yang ada di pikiran kakaknya. Risa merengut kecewa mendengar penjelasan dari adiknya samapi akhirnya adiknya kembali melanjutkan ucapannya.

“kalo kamu mau aku tadi juga beli buat kamu, tapi angetin sendiri ya! Cari aja di meja belakang tadi aku taruh di situ.” Risa mencubit pipi adiknya yang chubby dengan gemas sehingga membuatnya berteriak kesakitan. Risa berlalu kebelakang sebelum adiknya sempat membalas perbuatannya

* * *

Risa memandang langit-langit kamarnya, ia sudah mencoba memejamkan matanya tapi tetap tak bisa. Dalam hatinya hanya ada perasaan kesal, suntuk, kecewa dan semua perasaan lain campur aduk dalam hati dan pikirannya. Ia merasa kesepian sejak mamanya kembali bekerja. Ia merasa seolah-olah ditelantarkan. Ia kembali mencoba memejamkan matanya tapi sejenak kemudian membukanya kembali. Ia tidak bisa tidur, mungkin memang karena Risa tidak mengantuk. Ia hanya mencoba tidur karena ia tidak tahu lagi mau ngapain siang-siang begini sendirian dirumahnya yang besar itu.

“Ya Allah, apa aku salah kalau aku meminta sebaiknya mamaku nggak usah dikasih pekerjaan aja. Biar mama dipecat aja dari tempat kerjanya. Biar papa aja yang kerja. Aku rela kok hidup hemat kaya’ dulu lagi. Asal mama perhatian lagi ‘ma keluarga ini” ucapnya di sela-sela lamunannya. Hhh…, kembali Risa menghela napas panjang kemudian coba memejamkan matanya untuk yang kesekian kalinya.

* * *

“Mama?? Tumben udah pulang, Ma. Biasanya Reni ma kak Risa tunggu sampai malam Mama sama Papa nggak pulang-pulang juga?” tanya Reni penasaran saat melihat mamanya sampai di rumah jauh lebih cepat dari biasanya.

“Ada kabar buruk sayang…” ucap mamanya dengan raut muka gelisah seakan akan ada beban berat yang harus ia tanggung.

“Kabar buruk apa, Ma?” tanya Risa yang baru keluar dari kamarnya karena merasa mendengar suara mamanya di ruang tengah. Mamanya memandang Risa dan Reni bergantian.

“Mama dipecat dari tempat kerja mama. Sekarang kehidupan kita akan kembali seperti dulu. Bahkan mungkin lebih susah, karena kebutuhan kita kan semakin meningkat sementara dengan dipecatnya mama maka kita Cuma mengandalkan gaji Papa untuk membiayai kehidupan kita sehari-hari.” ucap Mamanya to the point dengan apa yang baru saja menimpanya. Dalam hati Risa berteriak kegirangan, Ya Allah terima kasih telah Engkau kabulkan do’a hambamu yang teraniaya ini . doa’anya dalam hati.

“Memangnya kenapa Mama kok tiba-tiba dipecat??” tanya adiknya penasaran.

“Mama juga nggak tau sayang, mereka Cuma kasih alas an standart ke mama.” jawab mama atas pertanyaan Reni. Tampak wajah mamanya sangat bersedih dengan apa yg baru saja dialaminya. ”Mereka bilang mereka kelebihan karyawan, jadi mereka harus mengurangi sebagian. Tapi tidak mungkin bagi mereka untuk mengurangi karyawan-karyawan lama. Karena tingkat loyalitas mereka terhadap perusahaan pasti lah sudah sangat besar.” lanjut mamanya kemudian menjelaskan. Risa mencoba memasang wajahnya sesedih mungkin meski dalam hati ia bersorak gembira. Makasih Tuhan... makasih ya Allah.....telah Kau kabulkan doa hambaMu ini. Ucapnya dalam hati.

”Ya udahlah, Ma. Nggak apa-apa koq kalau kita harus berhemat kaya’ dulu lagi. Habisnya mau gimana lagi donk ma kalau memang begitu keadaannya.” tutur Risa menjawab kesedihan mamanya.

* * *

PRAAANNGG,,,!!!

Risa mencoba menutup telinga dari suara-suara yang tidak ingin didengarnya, tapi suara itu lebih keras dari usahanya untuk tak mendengar mereka. Untuk kesekian kalinya dalam minggu ini mamanya bertengkar dengan papanya. Masalahnya pun masih tetap sama, uang. Setelah mamanya dipecat dari pekerjaannya otomatis mereka hanya mengandalkan uang dari pendapatan papa saja untuk hidup, padahal kebutuhan mereka semakin meningkat. Selain uang untuk makan sehari-hari masih ada biaya sekolah untuk Risa dan Reni, tagihan listrik, telepon, air, dan masih banyak lagi yang lainnya. Apalagi ditambah kebiasaan Risa dan Reni yang sempat merasakan hidup enak sehingga mereka bisa boros untuk pemakaian telepon seperti saat mama mereka masih bekerja.

PYARRR,,,,,,!!!!

Kembali terdengar suara gelas dibanting, rupanya pertempuran belum juga usai. Risa menghembuskan nafas sedih. Ya Tuhan... inikah hukuman dari yang kuminta saat itu. Aku berharap semoga mama dikeluarkan saja dari pekerjaannya, aku kira dengan seperti itu semua nya akan kembali seperti dulu. Tapi nyatanya aku salah, Tuhan... maafin Risa. Bukan ini yang Risa inginkan. Inikah akibat dari doa yang salah, doa yang penuh dengan keegoisan. Maafin Risa Tuhan,,, Maafin Risa dengan segala keegoisan Risa. Ternyata memang hanya Engkaulah yang tau apa yang terbaik bagi hamba-Mu. Itukah sebabnya mengapa Engkau selalu memberikan apa yang hambaMu perlukan, bukan apa yang mereka inginkan. Kalau saja aku menyadari ini lebih awal...mungkin aku nggak perlu mendengar semua pertengkaran ini Tuhan. Mungkin semuanya akan baik-baik saja. Ampuni aku dengan segala ucapan dan doa ku Tuhan.

* * *

Risa...bangun sayang...udah maghrib nich...sayup-sayup Risa mendengar ada orang yang membangunkannya. Ia mencoba membuka matanya dengan susah payah, ia melihat mamanya ada di hadapannya tampak letih dengan setelen blazernya. Risa membelalakkan matanya.

”Mama darimana kok pakai bajunya kaya’ begitu??? Mama udah dapat pekerjaan yang baru ya??” tanyanya heran dengan penampilan mamanya sementara mamanya lebih heran lagi demi mendengar pertanyaannya. ”Sayang kamu ngelindur ya???” ucap mamanya balik bertanya dengan tak kalah heran.

”Tentu aja Mama baru pulang kerja sayang. Memangnya darimana lagi?? Makanya kalau maghrib tuch jangan tidur melulu. Jadinya kan kamu mengigau begini. Sudah cepetan kamu bangun, mandi terus sholat maghrib. Hari ini kita makan malamnya di luar aja. Sebentar lagi papa juga pulang koq.” lanjut mamanya kemudian sebelum berlalu pergi meninggalkannya. Sesaat kemudian baru Risa menyadari sesuatu. Ternyata semua yang dialaminya tadi Cuma mimpi, tentang mamanya yang dikeluarkan dari pekerjaan, semua pertengkaran yang ia dengar, semuanya Cuma mimpi. Ya Allah..terima kasih Tuhan..telah Kau tegur aku dengan caraMu. Terima kasih karena Kau tidak mengabulkan semua keinginanku. Aku janji akan berhati-hati dengan segala apa yang kuucapkan dan apa yang kuminta, karena aku tahu... Engkau pasti lebih tau apa yang aku butuh dan aku perlu.

* * *

kirana,210109

1 komentar:

kika_aja mengatakan...

huuufff,,,kasih comment nya dunkzz,,,,,
all....
thanx be4 dech wat kalian yg dah berkunjung kesini^^

Posting Komentar

hai,,, terima kasih dah look my blog^^,,,selamat bergabung 'n selamat kasih koment yauw,,,^^